Posted on Leave a comment

Catatan Overhoul Diesel Engine Komatsu SA6D107E-1 Series Bagian 4 – Sistem Bahan Bakar

Sistem bahan bakar

Dibawah ini merupakan diagram blok sistem bahan bakar untuk diesel engine komatsu SA6D107E-1 series

Penjelasan Injektor dan jalur bahan bakar

CRI fuel system merupakan salah satu teknologi fuel system yang dipakai pada engine Komatsu SA6D107E-1, 6D125E-3 series dan engine 6D140E-3 series. dan beberapa engine lainnya. CRI Fuel system mempunyai keunggulan sebagai
berikut :
a. Penggunaan atau aplikasi yang luas
CRI Fuel system dipakai pada light vehicle, alat – alat berat, lokomotiv, kapal laut
dsb.
b. Tekanan injeksi yang tinggi (High pressure injection) mencapai 1400 bar.
c. Awal injeksi yang dapat dirubah – rubah.
d. Memungkinkan injeksi bahan bakar ke ruang bakar dapat dibagi dalam beberapa
tahap yaitu : Pilot injection, Main Injection dan Post Injection.
e. Memenuhi peraturan standard emisi gas buang.

Fuel Pump atau Pompa bahan bakar

High pressure fuel pump pada engine S6D140E-3 series berfungsi untuk mengalirkan / memompakan fuel dengan tekanan tinggi ke dalam sistim CRI. Jika dibandingkan dengan FIP, high pressure pump mempunyai ukuran yang lebih kecil dari FIP, ± 1/3 dari ukuran FIP. Fuel pump tersebut mempunyai flange sebagai pengganti dari saddle mount dan terhubung dengan timing gear case.

Fuel line atau saluran fuel pada CRI fuel system terdiri dari low fuel pressure circuit dan high fuel pressure circuit. Aliran fuel low pressure circuit berfungsi untuk mengalirkan fuel dari fuel tank sampai high pump. Komponen – komponen pada low fuel pressure circuit terdiri dari feed pump dengan tipe trochoid pump, priming pump dan fuel filter. Sedangkan aliran high fuel pressure circuit terdiri dari high pressure pump yang diatur oleh PCV solenoid valve, common rail dan injector.

Fuel Supply Pump

Fuel supply pump terletak disisi kiri engine dan digerakan oleh timing gear dengan arah putaran searah dengan putaran engine. Fuel supply pump terdiri dari priming pump, feed pump dan high pressure pump. Fuel supply pump berfungsi untuk menghasilkan fuel bertekanan ke dalam common rail dengan cara mengatur fuel disharge dari fuel pump. Secara umum fuel supply pump terdiri dari low pressure pump dan high pressure pump. Low pressure pump mempunyai tipe internal rotor pump atau trochoid pump yang berfungsi sebagai feed pump. Low pressure pump berfungsi untuk mentransfer fuel dari fuel tank ke kedua high pressure pump. Selain feed pump, fuel supply pump juga mempunyai priming pump yang berfungsi untuk mentransfer fuel dari fuel tank ke high pump dengan cara manual. Biasanya priming pump digunakan pada saat bleeding udara pada fuel system. High pressure pump berfungsi untuk mentransfer fuel ke common rail. Berbeda dengan low pressure pump, high pressure pump mampu mentransfer fuel ke common rail dengan tekanan yang tinggi. High pressure fuel pump digerakan oleh camshaft pada fuel supply pump

STRUKTUR DAN FUNGSI FUEL SUPPLY PUMP

Pump control valve (discharge amount control valve) terpasang pada masing – masing silinder fuel pump untuk mengatur sistem pemompaan fuel dan mengatur fuel disharge amount (jumlah fuel outlet fuel pump).

Klik untuk gratis download
Posted on Leave a comment

Catatan Overhoul Diesel Engine Komatsu SA6D107E-1 Series Bagian 3 – Sistem pengaturan udara masuk dan gas buang

Intake System

  1. Intake air inlet to turbocharger
  2. Turbocharger air to charge air cooler
  3. Charge air cooler
  4. Intake manifold
    (integral part of the cylinder head)
  5. Intake valve.
Perhatikan tanda panah yang berwarna biru, (1) Udara ditarik oleh bagian kompresor dari turbocharger yang sebelumnya telah disaring oleh pembersih udara,Gambar pembersih udara (Air cleaner tidak ditunjukan). (2) Kemudian, Udara bertekanan mengalir melalui pipa pendingin dan masuk ke bagian (3) “Charge air cooler” atau istilah lain dari “aftercooler” yang berfungsi untuk memberikan tambahan pendinginan, sehingga kerapatan udara (air density) menjadi bertambah. (4) Udara yang masuk kedalam “intake manifold , selanjutnya akan terhisap masuk oleh (5)Intake valve” untuk di proses dalam ruang pembakaran

Exhaust System

  1. Exhaust valve
  2. Exhaust manifold
  3. Turbocharger
  4. Turbocharger exhaust outlet
Turbocharger menggunakan energi dari gas buang atau exhaxust untuk memutarkan sudu sudu roda turbin. Dikarenakan kontruksi roda turbin terhubung dengan satu shaft yang sama dengan impeler kompresor pada bagian intake, maka udara luar dapat terhisap masuk pada bagian intake ini. Turbocharger, berfungsi untuk meningkatkan jumlah udara yang masuk kedalam ruang bakar, Oleh karena itu tidak heran bukan?, daya output dari engine yang menggunakan komponen ini, menjadi lebih besar dibandingkan dengan yang tidak menggunakan turbocharger.
Roda turbin dan kompresor memiliki kesamaan “Shaft” poros (dalam sebuah komponen “Kit”), yang didukung oleh dua “bearing” berputar yang duduk pada rumah turbo. Tanda panah yang diberikan pada gambar, merupakan aliran oli yang berasal dari hasil tekanan engine, selanjutnya masuk pada saluran untuk melumasi dan mendinginkan “Thrust Bearing dan shaft nya. Oli akan keluar dari rumah bearing dan kembali ke oil pan (Sump).

Salah satu penyebab bocornya oli pada seal ring tubocharger dan hubungannya dengan warna gas buang engine

Posted on Leave a comment

Catatan Overhoul Diesel Engine Komatsu SA6D107E-1 Series Bagian 2

Pada catatan Overhoul Komatsu Engine SA6D107E-1 Series bagian 1, Langkah Kedua adalah penegasan proses “Trouble Shooting tahap satu”, yaitu Alasan melakukan overhoul. langkah ini menuntut mekanik untuk melakukan prosedur pemeriksaan (Diagnostik) dan hasilnya nanti akan dibanding dengan standar parameter yang sudah tersedia pada tabel. Yang menjadi permasalahan umum  bagi mekanik yang belum pernah mengikuti pelatihan, adalah bahasa istilah teknik atau dikenal dengan “Technical Term” yang belum mereka kuasai, sehingga mereka belum bisa melakukan tuntutan prosedur pemeriksaan dengan baik, istilah redaksi “Boro boro melakukan prosedur “testing” instruksi dan istilahnya saja kita tidak mengerti “. Tahukan anda, berapa rupiah harga baru sebuah  engine SA6D107E-1 Series ini? dan tahukah anda berapa harga perbaikan untuk kategori “General Overhoul” yang di tawarkan oleh dealer?, silahkan dicari referensi harga tersebut. Admin disini hanya menegaskan bahwa, kegiatan servis ringan/ berkala/ atau overhoul bukan lah kegiatan coba coba, sehingga mengakibatkan double rugi atau “re-do” untuk kelas engine alat berat.

Mari kita uji kemampuan dasar mengenai istilah teknik yang ada pada satu lembar bagian dari shop manual yang begitu berharga, perhatikan tanda khusus yang diberikan pada tabel dibawah ini

Bagaimana apakah sudah paham yang dimaksud dengan istilah istilah yang admin tandai?, Jika sudah paham mari kita masuk ke prosedur uji

Ketika admin menjadi penguji kompetensi karyawan maupun sebagai recruiter, baik mekanik maupun staf manajemen, bukan hal yang istimewa bukan, jika pertanyaan yang muncul pertama kali disuguhkan kepada calon karyawan adalah istilah teknis seputar spesifikasi yang hanya satu lembar tersebut. Tentunya kalian sekarang sudah tahu alasannya. Bahkan untuk beberapa pengalaman yang sering ditemui, beberapa mekanik yang mengaku senior, sudah gagal dalam pertanyaan pertama, ketika tidak bisa menyebutkan tipe dan seri engine yang digunakan pada unit Excavator PC 200-8. Kenapa?, karena tidak mungkin rasanya seorang mekanik senior yang memberikan pernyataan, sudah belasan tahun menangani engine Komatsu series ini, tetapi tidak bisa menyebutkan nama dari tipe engine ini, selain apa yang dikerjakanya itu bukanlah sebuah hobi atau profesi yang sesungguhnya dia tekuni dan cintai, Istilah redaksi ” Tahu rasa, lupa nama”, hingga lupa menghargainya. Selain penilaian tadi, faktor resiko yang admin cegah atau kurangi dalam mencari mekanik profesional adalah, ketika nantinya masuk dan bekerja, mereka akan sulit berkomunikasi dengan baik dengan para pengawas, planner dan divisi terkait, karena tidak bisa melakukan pemesanan barang atau komponen yang tepat dan tidak mampu menjabarkan “Root Cause Analysis”

Performance atau unjuk kerja

Dalam tabel pengukuran, objek paramater yang dijadikan acuan apakah engine ini termasuk dalam kategori dibawah standar adalah :

Engine Speed atau Kecepatan engine, yang dibagi kedalam dua kondisi pengukuran (condition measurement), sebagai berikut :

  1. High Iddle Speed, dalam satuan rpm
  2. Low Iddle Speed, dalam satuan rpm
  3. Apakah pengertian diatas dan bagaimana cara pengukurannya?, lalu bagaimana dengan hasil yang sesuai standar ?…
Posted on Leave a comment

Catatan Overhoul Diesel Engine Komatsu SA6D107E-1 Series Bagian 1

Dalam artikel kali ini, kita akan membahas beberapa poin penting dan kritikal, ketika kita akan melakukan overhoul diesel engine KOMATSI SA6D 107 E-1 Series yang sering digunakan untuk aplikasi mesin dibawah ini :

Hydraulid Excavator

PC200-8, PC200LC-8
PC220-8, PC220LC-8
PC270-8
PC228US-3E0, PC228USLC-3E0
PC308USLC-3E0

Wheel Loader

WA250-6, WA250PZ-6
WA320-6, WA320PZ-6
WA380-6


BR380JG-1E0 Mobile crusher

Sebelum membahas poin penting tersebut, silahkan mempelajari terlebih dahulu Workshop manual sebagai berikut:

<br><br>

Langkah Pertama, Mencari informasi Seri Engine pada “Name Plate / Tag”

Beberapa mekanik yang mengaku senior, belum tentu paham bagaimana mencari informasi ini dan tujuan nya untuk apa?. Menurut pengalaman admin dan tim diberbagai perusahaan, terutama perusahaan perkebunan yang memiliki mekanik dengan latar belakang “Koboy” (istilah redaksi) dan belum pernah memiliki pengalaman training atau minim akan pelatihan, seringkali instruksi untuk mencari informasi penting ini menjadi terabaikan, dengan mengirimkan gambar atau foto “name Plate” engine yang salah dikarenakan kurang pengetahuan, bahkan foto yang dikirimkan oleh mekanik tersebut, berupa foto “segolondong engine”, keseluruhan foto unit, Part number block engine, dan foto lain yang sama sekali tidak merujuk pada seri engine atau mesin yang seharusnya. Tentunya dengan tidak adanya informasi ini, proses perbaikan dari mulai tahap inspeksi, pembuatan time line pekerjaan, persiapan pemesanan komponen pengganti, yang seharusnya dapat memberikan informasi yang benar ke bagian terkait, seperti divisi produksi dan purchasing menjadi terhambat dan “gagal paham”

Berikut salah satu contoh foto yang bisa jadi acuan bagaimana mencari informasi dari seri engine dan seri mesin pada “Name Plate” yang terpasang

Langkah Kedua, Melakukan “Trouble Shooting tahap satu” Alasan melakukan overhoul

Bagi yang selalu loncat dan suka melakukan tebakan dalam proses overhoul dengan nilai aset yang cukup mahal, harap dikurangi dan dihentikan prilaku buruk ini. Berkurangnya unjuk kerja atau “Low Performance” dapat dialami oleh engine yang sudah mencapai HM (Hour Meter) misal : 18000 Jam ke atas, dikarenakan Over due dan worn out (aus) komponen yang berada di dalam engine, khususnya bagian komponen yang ada di ruang bakar, seperti ring piston, linner, dan Valve. Keausan komponen ini dapat terjadi juga, sebelum engine mencapai HM : 18000 yang direkomendasikan oleh principal, dikarenakan karena kurangnya perawatan, sehingga komponen mengalami kerusakan sebelum waktunya.

Parameter unjuk kerja engine SA6D107 Series dapat diukur dan dibandingkan dengan mengacu pada informasi halaman “Standard value table for testing, adjusting and troubleshooting” yang terdapat dalam shop manual seperti gambar berikut :

Langkah Ketiga, Melakukan proses overhoul sesuai dengan standar yang benar

Apakah akal akalan boleh saja ?, tetapi jangan berharap banyak dengan hasil maksimal dan ketangguhan unjuk kerja hasil perbaikan, karena sesuatu yang dikerjakan tanpa ILMU pengetahuan, hasilnya pasti tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Perhatikan setiap langkah yang diberikan oleh Shop manual, seperti pada gambar berikut :

Apakah anda sudah cukup mampu dan berpengalaman?

Sekarang mari kita menguji kemampuan dari mulai tahap pemula (Newbie), profesional, dan expertised pengetahuan anda dibidang alat berat, sebaiknya berlatih dan mempelajari ilmu pengetahuan tentang perbaikan atau overhoul engine SA6D107E-1 Series KOMATSU dengan baik dan benar disertai oleh tim Instruktur yang berpengalaman dapat mengurangi resiko kecelakaan anda dalam bekerja, resiko merusak lingkungan, resiko merusak komponen dan mesin, salah melakukan pemesanan komponen dan kerugian biaya bagi perusahaan dimana anda bekerja.

LATIHAN LEVEL PEMULA

  1. Kategori level pemula adalah kelompok yang terdiri dari siswa baru lulus SMK/SMA Sederajat, atau mekanik yang belum perngalaman

Konten materi ini terdapat dalam aplikasi M.A.BI (Mekanik Alat Berat Indonesia)

This image has an empty alt attribute; its file name is google-badge300x116.png
M.A.BI Free Download
This image has an empty alt attribute; its file name is logoapkAMM-1024x366.png
Tampilkan layar penuh

LATIHAN LEVEL PROFESIONAL

  1. Untuk keterangan atau informasi lebih lanjut, tentang bagaimana menentukan level dan mekanisme uji untuk level ini, silahkan hubungi admin. Dipersilahkan untuk mencoba dan mempelajari isi materi sebagai berikut :

Konten materi ini terdapat dalam aplikasi M.A.BI (Mekanik Alat Berat Indonesia)

This image has an empty alt attribute; its file name is google-badge300x116.png
M.A.BI Free Download
This image has an empty alt attribute; its file name is logoapkAMM-1024x366.png
Tampilkan layar penuh

LATIHAN LEVEL EXPERTISED

  1. Untuk keterangan atau informasi lebih lanjut, tentang bagaimana menentukan level dan mekanisme uji untuk level ini, silahkan hubungi admin. Dipersilahkan untuk mencoba dan mempelajari isi materi sebagai berikut :

Konten materi ini terdapat dalam aplikasi M.A.BI (Mekanik Alat Berat Indonesia)

This image has an empty alt attribute; its file name is google-badge300x116.png
M.A.BI Free Download
This image has an empty alt attribute; its file name is logoapkAMM-1024x366.png
Tampilkan layar penuh

LATIHAN SPESIALISASI ALAT

  1. Merupakan contoh Aplikasi latihan untuk perbaikan overhoul engine SA6D107E-1 Series, aplikasi alat PC 200-8

Konten materi ini terdapat dalam aplikasi M.A.BI (Mekanik Alat Berat Indonesia)

This image has an empty alt attribute; its file name is google-badge300x116.png
M.A.BI Free Download
This image has an empty alt attribute; its file name is logoapkAMM-1024x366.png
Tampilkan layar penuh
Posted on Leave a comment

Instrument Penelitian,Pengujian atau Pelatihan

Sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar dalam berbagai segmentasi bidang pembelajaran, anda harus mempersiapkan salah satu bagian yang penting, yaitu instrument test atau alat uji tingkat penguasaan materi oleh peserta. Pengujian tingkat penguasaan materi diaharapkan dapat mencerminkan tingkat keberhasilan sebuah program pembelajaran, yang sangat bermanfaat dalam evaluasi pembelajaran sebagai berikut :

  1. Pengembanagan materi ajar
  2. Pengembangan metodologi
  3. Pengembangan fasilitas
  4. Pengembangan alat uji
  5. Pengembangan segmentasi dan target peserta
  6. Pengembangan efesiensi waktu, dll

Dalam artikel ini, saya akan membahas mengenai alat Uji Instrument Penelitian,Pengujian atau Pelatihan. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan. Ada istilah sebagai berikut ” Sebelum Nasi menjadi Bubur, Lebih baik kita kondisikan temperatur dan waktu memasaknya”. Artinya sebelum alat uji tidak valid, yang artinya tidak dapat mengukur apa yang hendak diukur, atau tidak reliable, sehingga data hasil uji tidak dapat berlaku secara umum, maka lebih baik kita perhatikan beberapa langkah sebagai berikut ini :

  • Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Alat ukur yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. (Suharsimi Arikunto, 2006:186)

Penjelasan di atas serupa dengan apa yang diungkapkan oleh Gay (dalam Sukardi, 2007:121) yang menyatakan bahwa “suatu instrumen dikatakan valid apabila instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur”.

Dalam penelitian ini, untuk menghitung validitas instrumen yaitu dengan cara menghitung koefisien validitas, menggunakan rumus Korelasi Product Moment 

  • Uji Reliabilitas

Menurut Nasution, S (1995:104) menyatakan bahwa “Realibilitas dari alat ukur adalah penting, karena apabila alat ukur yang digunakan tidak reliable dengan sendirinya tidak valid”. Uji realibilitas bertujuan untuk menguji ketepatan atau keajegan alat dalam mengukur apa yang akan diukur.

Menurut Gay (dalam Sukardi, 2007:127) menjelaskan bahwa “ instrumen penelitian dikatakan mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang  konsisten dalam mengukur yang hendak diukur”.

  Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Alpa  (Suharsimi Arikunto, 2006:188)

  • Uji Tingkat Kesukaran

Tingkat kesukaran adalah suatu parameter untuk menyatakan bahwa item soal adalah mudah, sedang, dan sukar. 

Untuk menentukan apakah soal tersebut dikatakan baik atau tidak baik sehingga perlu direvisi, digunakan kriteria sebagai berikut ; dalam penelitian ini menggunakan pilihan ganda. Maka kriteria tingkat kesukarannya sebagai berikut :

No.Rentang Nilai Tingkat KesukaranKlasifikasi
1.0,70 £ TK £ 1,00Mudah
2.0,30 £ TK < 0,70Sedang
3.0,00 £ TK < 0,30Sukar

    (Nana Sudjana, 1995:137)

Makin rendah nilai TK suatu soal, makin sukar soal tersebut. Tingkat kesukaran suatu soal dikatakan baik jika nilai TK yang diperoleh dari soal tersebut sekitar 0,50 atau 50%. Umumnya dapat dikatakan; soal-soal yang mempunyai nilai TK £ 0,10 adalah soal-soal yang sukar ; dan soal-soal yang mempunyai nilai TK ³ 0,90 adalah soal-soal yang terlampau mudah.

  • Uji Daya Pembeda

Daya pembeda suatu butir soal menyatakan seberapa jauh kemampuan butir soal tersebut mampu membedakan antara siswa yang dapat menjawab soal dengan siswa yang tidak dapat menjawab soal. Daya pembeda suatu soal tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus

No.Rentang Nilai DKlasifikasi
1.D < 0,20Jelek (harus diganti)
2.0,20 £ D < 0,40Cukup
3.0,40 £ D < 0,70Baik
4.0,70 £ D £ 1,00Baik sekali

 (Sudjana, 1996:458).

  • Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil tes setelah pembelajaran, selanjutnya diolah dan dianalisis untuk menguji hipotesis penelitian ini. Tujuan yang ingin dicapai dengan analisis data ini adalah untuk menyederhanakan data ke dalam bentuk yang dapat dimengerti dan ditafsirkan, sehingga hubungan-hubungan yang ada dalam masalah penelitian ini dapat dipelajari dan diuji. Alat yang dipakai untuk menyederhanakan data ini adalah dengan menggunakan statistika. Adapun langkah-langkah untuk menganalisis data sebagai berikut :

Uji Deskripsi Data

Uji deskripsi ini menggunakan menu Descriptive Statistic pada SPSS v15. Uji ini dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu data dalam variabel. Secara umum, menu ini berisi sub-submenu frequencies, descriptives, explore, crosstabs, dan ratio. Submenu yang sering digunakan adalah descriptive. Menu ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai nilai mean, sum, standard deviasi, variance, range, minimum dan maximum. Namun, tidak semua nilai deskripsi diperlukan dalam suatu pengujian. Sebaiknya, dipilih sesuai dengan kebutuhan analisis. Langkah-langkah pada desciptive statistics, sebagai berikut :

  1. Siapkan data sesuai nama variabel-variabel yang dibutuhkan pada worksheet SPSS.
  2. Klik command windows : Analyze  à  Descriptive Statistics  à Descriptives.
  3. Kik atau blok nama-nama variabel yang akan dideskripsikan.
  4. Klik tanda panah sehingga nama-nama variabel masuk ke dalam kolom Variables.
  5. Klik Options
  6. Klik nilai-nilai deskripsi dan sesuaikan dengan kebutuhan analisis, baik itu Mean, Sum, Standard Deviasi, Variance, Range, Minimum maupun Maximum.
  7. Klik Continue.
  8. Kemudian, klik OK untuk melihat hasil yang diperoleh dari uji deskripsi data tersebut.

Uji Normalitas Distribusi

Uji normalitas data ini sebaiknya dilakukan sebelum data diolah berdasarkan model-model penelitian. Uji normalitas dilakukan  untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Apabila data berdistribusi normal, maka digunakan statistik parametrik dan jika berdistribusi tidak normal, maka digunakan statistik non parametrik atau Rank Spearman. Uji normalitas data dapat dilakukan dengan menggunakan uji skewness (nilai kecondongan atau kemiringan suatu kurva) dan Saphiro wilk pada SPSS 15.0. Adapun hipotesis dalam pengujian normalitas data, sebagai berikut:

H0 : Kedua sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal

H1: Kedua sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal

     Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji normalitas data, sebagai berikut :

  1. SkewnessJika nilai skewness dan standar error berada pada interval -2 < RS < 2, dimana RS = ,  maka H0 diterima.

(Getut Pramesti, 2006:67)

  • Saphiro wilkJika nilai signifikansi (sig.) atau probabilitas ≥ 0,05, maka H0 diterima.

(Singgih Santoso, 2001:168-169).

Selain, uji skewness dan Saphiro wilk dapat juga menggunakan histogram display normal curve untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Normalitas data dengan histogram display normal curve dapat ditentukan berdasarkan bentuk gambar kurva. Data dikatakan normal jika bentuk kurva memiliki kemiringan yang cenderung seimbang, baik pada sisi kiri maupun sisi kanan, dan kurva berbentuk menyerupai lonceng yang hampir sempurna. Semakin mendekati nol nilai skewness, gambar kurva cenderung memiliki kemiringan yang seimbang.

Data yang baik adalah data yang memiliki distribusi secara normal. Normalitas data dapat dilihat dari nilai skewness. Skewness adalah nilai kecondongan (kemiringan) suatu kurva. Data yang berdistribusi mendekati normal akan memiliki nilai skewness yang mendekati angka nol, sehingga memiliki kemiringan yang cenderung seimbang.

Uji Homogenitas

            Gay (dalam Sukardi, 2007:132) menyatakan bahwa “mengukur homogenitas pada dasarnya adalah memperhitungkan dua sumber kesalahan yang muncul pada tes yang direncanakan”.

            Uji homogenitas data digunakan untuk menguji apakah dua sampel yang diambil mempunyai varians yang sama. Uji homogenitas data dilakukan dengan menggunakan uji lavene test pada SPSS 15.0. Adapun hipotesis dalam pengujian homogenitas data pretes, sebagai berikut :

 H0 : Rata-rata pretes kedua sampel mempunyai varians yang sama.

 H1: Rata-rata pretes kedua sampel mempunyai varians yang berbeda.

Sedangkan, dasar pengambilan keputusan dalam uji homogenitas data dengan lavene test, sebagai berikut :

  • Jika nilai signifikansi (sig.) atau probabilitas ≥ 0,05, maka H0 diterima.

(Getut Pramesti, 2006:90)

Uji kesamaan dua rata-rata

Uji kesamaan dua rata-rata dilakukan untuk mengetahui apakah kedua sampel memiliki rata-rata pretes yang sama. Pengujian dilakukan dengan menggunakan Uji t Beda Dua Sampel Tidak Berhubungan (Independent Sample T-Test). Adapun hipotesis dalam pengujian kesamaan dua rata-rata data pretes, sebagai berikut:

H0 : Kedua sampel mempunyai rata-rata nilai yang sama.

H1: Kedua sampel mempunyai rata-rata nilai yang tidak sama.

              Sedangkan, dasar pengambilan keputusan dalam uji kesamaan dua rata-rata, sebagai berikut :

  • Jika nilai signifikansi (sig.) atau probabilitas ≥ 0,05, maka H0 diterima.

(Getut Pramesti, 2006:90)

Uji Perbedaan dua rata-rata

Uji perbedaan dua rata-rata dilakukakan untuk mengetahui apakah kedua sampel memiliki perbedaan peningakatan hasil belajar antara dua kelompok yaitu pembelajaran dengan menggunakan model A dengan model B

Pengujian dilakukan dengan menggunakan Uji t Beda Dua Sampel Tidak Berhubungan (Independent Sample T-Test) dua pihakdengan persamaan, sebagai berikut :                   

Adapun hipotesis dalam pengujian perbedaan dua rata-rata hasil belajar, sebagai berikut:

H0 : Tidak terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.

H1 : Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Sedangkan, dasar pengambilan keputusan dalam uji perbedaan dua rata-rata dengan Independent Sample T-Test, sebagai berikut :

  • Jika t hitung  < t tabel , maka H0 diterima.

      atau,

  • Jika nilai signifikansi (sig.) atau probabilitas ≥ 0,05, maka H0 diterima.

(Getut Pramesti, 2006:90)