Posted on Leave a comment

Instrument Penelitian,Pengujian atau Pelatihan

Loading...
Loading...

Sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar dalam berbagai segmentasi bidang pembelajaran, anda harus mempersiapkan salah satu bagian yang penting, yaitu instrument test atau alat uji tingkat penguasaan materi oleh peserta. Pengujian tingkat penguasaan materi diaharapkan dapat mencerminkan tingkat keberhasilan sebuah program pembelajaran, yang sangat bermanfaat dalam evaluasi pembelajaran sebagai berikut :

  1. Pengembanagan materi ajar
  2. Pengembangan metodologi
  3. Pengembangan fasilitas
  4. Pengembangan alat uji
  5. Pengembangan segmentasi dan target peserta
  6. Pengembangan efesiensi waktu, dll

Dalam artikel ini, saya akan membahas mengenai alat Uji Instrument Penelitian,Pengujian atau Pelatihan. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan. Ada istilah sebagai berikut ” Sebelum Nasi menjadi Bubur, Lebih baik kita kondisikan temperatur dan waktu memasaknya”. Artinya sebelum alat uji tidak valid, yang artinya tidak dapat mengukur apa yang hendak diukur, atau tidak reliable, sehingga data hasil uji tidak dapat berlaku secara umum, maka lebih baik kita perhatikan beberapa langkah sebagai berikut ini :

  • Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Alat ukur yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah. (Suharsimi Arikunto, 2006:186)

Penjelasan di atas serupa dengan apa yang diungkapkan oleh Gay (dalam Sukardi, 2007:121) yang menyatakan bahwa “suatu instrumen dikatakan valid apabila instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur”.

Dalam penelitian ini, untuk menghitung validitas instrumen yaitu dengan cara menghitung koefisien validitas, menggunakan rumus Korelasi Product Moment 

  • Uji Reliabilitas

Menurut Nasution, S (1995:104) menyatakan bahwa “Realibilitas dari alat ukur adalah penting, karena apabila alat ukur yang digunakan tidak reliable dengan sendirinya tidak valid”. Uji realibilitas bertujuan untuk menguji ketepatan atau keajegan alat dalam mengukur apa yang akan diukur.

Menurut Gay (dalam Sukardi, 2007:127) menjelaskan bahwa “ instrumen penelitian dikatakan mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang  konsisten dalam mengukur yang hendak diukur”.

  Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan rumus Alpa  (Suharsimi Arikunto, 2006:188)

  • Uji Tingkat Kesukaran

Tingkat kesukaran adalah suatu parameter untuk menyatakan bahwa item soal adalah mudah, sedang, dan sukar. 

Untuk menentukan apakah soal tersebut dikatakan baik atau tidak baik sehingga perlu direvisi, digunakan kriteria sebagai berikut ; dalam penelitian ini menggunakan pilihan ganda. Maka kriteria tingkat kesukarannya sebagai berikut :

No.Rentang Nilai Tingkat KesukaranKlasifikasi
1.0,70 £ TK £ 1,00Mudah
2.0,30 £ TK < 0,70Sedang
3.0,00 £ TK < 0,30Sukar

    (Nana Sudjana, 1995:137)

Makin rendah nilai TK suatu soal, makin sukar soal tersebut. Tingkat kesukaran suatu soal dikatakan baik jika nilai TK yang diperoleh dari soal tersebut sekitar 0,50 atau 50%. Umumnya dapat dikatakan; soal-soal yang mempunyai nilai TK £ 0,10 adalah soal-soal yang sukar ; dan soal-soal yang mempunyai nilai TK ³ 0,90 adalah soal-soal yang terlampau mudah.

  • Uji Daya Pembeda

Daya pembeda suatu butir soal menyatakan seberapa jauh kemampuan butir soal tersebut mampu membedakan antara siswa yang dapat menjawab soal dengan siswa yang tidak dapat menjawab soal. Daya pembeda suatu soal tes dapat dihitung dengan menggunakan rumus

No.Rentang Nilai DKlasifikasi
1.D < 0,20Jelek (harus diganti)
2.0,20 £ D < 0,40Cukup
3.0,40 £ D < 0,70Baik
4.0,70 £ D £ 1,00Baik sekali

 (Sudjana, 1996:458).

  • Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil tes setelah pembelajaran, selanjutnya diolah dan dianalisis untuk menguji hipotesis penelitian ini. Tujuan yang ingin dicapai dengan analisis data ini adalah untuk menyederhanakan data ke dalam bentuk yang dapat dimengerti dan ditafsirkan, sehingga hubungan-hubungan yang ada dalam masalah penelitian ini dapat dipelajari dan diuji. Alat yang dipakai untuk menyederhanakan data ini adalah dengan menggunakan statistika. Adapun langkah-langkah untuk menganalisis data sebagai berikut :

Uji Deskripsi Data

Uji deskripsi ini menggunakan menu Descriptive Statistic pada SPSS v15. Uji ini dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu data dalam variabel. Secara umum, menu ini berisi sub-submenu frequencies, descriptives, explore, crosstabs, dan ratio. Submenu yang sering digunakan adalah descriptive. Menu ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai nilai mean, sum, standard deviasi, variance, range, minimum dan maximum. Namun, tidak semua nilai deskripsi diperlukan dalam suatu pengujian. Sebaiknya, dipilih sesuai dengan kebutuhan analisis. Langkah-langkah pada desciptive statistics, sebagai berikut :

  1. Siapkan data sesuai nama variabel-variabel yang dibutuhkan pada worksheet SPSS.
  2. Klik command windows : Analyze  à  Descriptive Statistics  à Descriptives.
  3. Kik atau blok nama-nama variabel yang akan dideskripsikan.
  4. Klik tanda panah sehingga nama-nama variabel masuk ke dalam kolom Variables.
  5. Klik Options
  6. Klik nilai-nilai deskripsi dan sesuaikan dengan kebutuhan analisis, baik itu Mean, Sum, Standard Deviasi, Variance, Range, Minimum maupun Maximum.
  7. Klik Continue.
  8. Kemudian, klik OK untuk melihat hasil yang diperoleh dari uji deskripsi data tersebut.

Uji Normalitas Distribusi

Uji normalitas data ini sebaiknya dilakukan sebelum data diolah berdasarkan model-model penelitian. Uji normalitas dilakukan  untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Apabila data berdistribusi normal, maka digunakan statistik parametrik dan jika berdistribusi tidak normal, maka digunakan statistik non parametrik atau Rank Spearman. Uji normalitas data dapat dilakukan dengan menggunakan uji skewness (nilai kecondongan atau kemiringan suatu kurva) dan Saphiro wilk pada SPSS 15.0. Adapun hipotesis dalam pengujian normalitas data, sebagai berikut:

H0 : Kedua sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal

H1: Kedua sampel berasal dari populasi yang tidak berdistribusi normal

     Adapun dasar pengambilan keputusan dalam uji normalitas data, sebagai berikut :

  1. SkewnessJika nilai skewness dan standar error berada pada interval -2 < RS < 2, dimana RS = ,  maka H0 diterima.

(Getut Pramesti, 2006:67)

  • Saphiro wilkJika nilai signifikansi (sig.) atau probabilitas ≥ 0,05, maka H0 diterima.

(Singgih Santoso, 2001:168-169).

Selain, uji skewness dan Saphiro wilk dapat juga menggunakan histogram display normal curve untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Normalitas data dengan histogram display normal curve dapat ditentukan berdasarkan bentuk gambar kurva. Data dikatakan normal jika bentuk kurva memiliki kemiringan yang cenderung seimbang, baik pada sisi kiri maupun sisi kanan, dan kurva berbentuk menyerupai lonceng yang hampir sempurna. Semakin mendekati nol nilai skewness, gambar kurva cenderung memiliki kemiringan yang seimbang.

Data yang baik adalah data yang memiliki distribusi secara normal. Normalitas data dapat dilihat dari nilai skewness. Skewness adalah nilai kecondongan (kemiringan) suatu kurva. Data yang berdistribusi mendekati normal akan memiliki nilai skewness yang mendekati angka nol, sehingga memiliki kemiringan yang cenderung seimbang.

Uji Homogenitas

            Gay (dalam Sukardi, 2007:132) menyatakan bahwa “mengukur homogenitas pada dasarnya adalah memperhitungkan dua sumber kesalahan yang muncul pada tes yang direncanakan”.

            Uji homogenitas data digunakan untuk menguji apakah dua sampel yang diambil mempunyai varians yang sama. Uji homogenitas data dilakukan dengan menggunakan uji lavene test pada SPSS 15.0. Adapun hipotesis dalam pengujian homogenitas data pretes, sebagai berikut :

 H0 : Rata-rata pretes kedua sampel mempunyai varians yang sama.

 H1: Rata-rata pretes kedua sampel mempunyai varians yang berbeda.

Sedangkan, dasar pengambilan keputusan dalam uji homogenitas data dengan lavene test, sebagai berikut :

  • Jika nilai signifikansi (sig.) atau probabilitas ≥ 0,05, maka H0 diterima.

(Getut Pramesti, 2006:90)

Uji kesamaan dua rata-rata

Uji kesamaan dua rata-rata dilakukan untuk mengetahui apakah kedua sampel memiliki rata-rata pretes yang sama. Pengujian dilakukan dengan menggunakan Uji t Beda Dua Sampel Tidak Berhubungan (Independent Sample T-Test). Adapun hipotesis dalam pengujian kesamaan dua rata-rata data pretes, sebagai berikut:

H0 : Kedua sampel mempunyai rata-rata nilai yang sama.

H1: Kedua sampel mempunyai rata-rata nilai yang tidak sama.

              Sedangkan, dasar pengambilan keputusan dalam uji kesamaan dua rata-rata, sebagai berikut :

  • Jika nilai signifikansi (sig.) atau probabilitas ≥ 0,05, maka H0 diterima.

(Getut Pramesti, 2006:90)

Uji Perbedaan dua rata-rata

Uji perbedaan dua rata-rata dilakukakan untuk mengetahui apakah kedua sampel memiliki perbedaan peningakatan hasil belajar antara dua kelompok yaitu pembelajaran dengan menggunakan model A dengan model B

Pengujian dilakukan dengan menggunakan Uji t Beda Dua Sampel Tidak Berhubungan (Independent Sample T-Test) dua pihakdengan persamaan, sebagai berikut :                   

Adapun hipotesis dalam pengujian perbedaan dua rata-rata hasil belajar, sebagai berikut:

H0 : Tidak terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.

H1 : Terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.

Sedangkan, dasar pengambilan keputusan dalam uji perbedaan dua rata-rata dengan Independent Sample T-Test, sebagai berikut :

  • Jika t hitung  < t tabel , maka H0 diterima.

      atau,

  • Jika nilai signifikansi (sig.) atau probabilitas ≥ 0,05, maka H0 diterima.

(Getut Pramesti, 2006:90)

Advertisements Auto Ads Type
Loading...
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *